SEJARAH CANDI BUMI AYU

Sejarah dan Latar Belakang

Candi adalah bangunan yang didirikan sebagai sarana untuk melakukan upacara ritual berupa pemujaan dan penghormatan terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan Supra natural. 

Kompleks percandian yang terletak di bumi Ayu merupakan satu-satunya kompleks percandian Hindu di Sumatera Selatan yang didirikan sekitar abad 9- 14 Masehi. Sampai saat ini sudah ditemukan 12 struktur candi di kawasan ini, candi satu,2,3,7 dan 8 sudah dipugar dan sisanya masih merupakan gundukan yang diberi penanda. Candi 1,2 dan 3 merupakan bangunan suci atau peribadatan, Sedangkan bangunan 4,5,6,7,8,9 dan 10 merupakan bangunan pendukung dari bangunan bangunan suci tersebut.

Kawasan percandian bumi ayu

       Kawasan percandian Bumi Ayu yang luasnya 210 ha, terletak di Desa Bumi Ayu, kecamatan tanah abang, kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, provinsi Sumatera Selatan. Pada koordinat geografis 3° 19’5,59 lintang selatan dan 104°5’5,4 bujur timur. Kawasan pertanian yang berada di me under sungai yang matang, berbatasan dengan sungai Lematang disebelah timur, sungai Lubuk Panjang di sebelah selatan, sungai tebat siku di sebelah barat, dan sungai tebat jambu di sebelah utara.

       Bumi Ayu memiliki peranan penting dalam perekonomian kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya memiliki kekuasaan di perairan Musi, dari pesisir sampai ke pedalaman dan bumi Ayu berada dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya serta memiliki hubungan dagang yang baik dengan kerajaan. Meningkatkan kegiatan perdagangan di perairan Musi, mendorong masuk dan berkembangnya agama Hindu dan Buddha. Agama Buddha berkembang pesat karena peranan para penguasa dalam mendorong pendirian candi candi dan arca arca untuk kegiatan keagamaan. Agama Hindu yang sudah muncul pada abad ke enam Masehi di situs kota kapur(Bangka), Menyebar sampai ke ibukota Sriwijaya. Namun kemudian terdesak dan menyingkir ke daerah pedalaman, dan para penganutnya mendirikan bangunan peribadatan   dan mengalami kejayaan di bumi Ayu.

WhatsApp Image 2025-05-26 at 22.30.01 (1)

Riwayat penemuan penelitian dan pelestarian

       E.P Tombrink Melaporkan dalam tulisannya yang berjudul Hindo monumenten in de Bovenladen Van Palembang, Bahwa dalam kunjungannya di daerah Lematang uluh tahun 1864 menemukan benda Purbakala bercorak Hindu berupa arca dari terasi berjumlah 26 buah, di antaranya adalah arca Nandi. Sedangkan di daerah Lematang Ilir ditemukan reruntuhan candi dekat dusun tanah abang dan sebuah liat burung kakatua. Beberapa tahun kemudian seorang controller Belanda bernama A.J Knaap melaporkan bahwa di wilayah matang Ilir ditemukan sebuah reruntuhan bangunan batas tinggi 1,75 m, berdasarkan informasi yang diperoleh pada saat itu reruntuhan tersebut merupakan bekas Kraton Gedebong udang.

       Penelitian kawasan percandian bumi Ayu dilakukan secara terus menerus oleh peneliti lain, di antaranya oleh JLA Brandes pada tahun 1904 dan westernenk  pada tahun 1923. Pada tahun 1930 Van den Bosch dalam tulisannya di majalah Oudheidkundig Verslag universitas menyebutkan bahwa di tanah abang ditemukan sudut bangunan dengan hiasan makhluk Ghana dan terakota, sebuah kemuncak bangunan seperti berbentuk Linga, antefiks dan sebuah arca tanpa kepala. Kemudian schnitger pada tahun 1936 berhasil menemukan tiga buah reruntuhan struktur bata, Fragmen arca siwa, Dua buah arca kepala kalah, Fragmen ada singa, dan sejumlah bata berhiaskan burung. Setelah Indonesia merdeka, Puslitarkenas ( saat itu Pus.P3N). Pada tahun 1973 mulai melakukan penelitian bekerja sama dengan Pennsylvania  university kemudian Puslitarkenas melanjutkan penelitian tersebut pada tahun 1976 dan berhasil menemukan lagi tiga reruntuhan bangunan pada tahun 1976. Pada tahun yang sama upaya pelestarian mulai dirintis oleh Direktorat perlindungan dan pembinaan peninggalan sejarah dan Purbakala melakukan studi kelayakan dengan hasil merekomendasikan layak Pugar delapan buah reruntuhan bangunan “candi” sejak tahun 1993 balai pelestarian Cagar budaya Jambi secara berkesinambungan terus melakukan upaya upaya pelestarian di kawasan  percandian bumi Ayu.

Awalnya Candi Bumi Ayu merupakan satu kompleks besar, yang saat ini dikenal sebagai Candi I. Namun, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pembangunan permukiman, kompleks candi kini terlihat terpisah karena keberadaan rumah-rumah warga di sekitarnya. Nama “Candi Bumi Ayu” sendiri berasal dari lokasi keberadaan candi ini, yaitu di Desa Bumi Ayu. Sebenarnya, nama asli situs ini bukanlah “Candi Bumi Ayu”, melainkan merujuk pada situs cagar budaya yang berada di kawasan desa tersebut.Masuknya pengaruh Hindu ke Sumatera dimulai dari wilayah Kota Kapur di Pulau Bangka, kemudian menyebar ke Palembang pada abad ke-7. Candi Bumi Ayu diyakini merupakan pusat kegiatan keagamaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.Masyarakat setempat sudah lama mengetahui keberadaan situs candi ini. Bahkan sebelum dikenal sebagai Desa Bumi Ayu, warga lebih mengenal kawasan ini sebagai daerah candi.

CANDI 1

Candi satu terletak di sebelah barat sungai Piabung dan terdiri atas candi induk serta tiga candi Perwara. Candi ini diperkirakan dibangun setelah abad ke sembilan Masehi dan mengalami dua tahap pembangunan. Pada saat penggalian, selain mendapatkan runtuhan kaki dan badan bangunan, ditemukan juga komponen atap candi, seperti antefiks, Kemuncak dan menara hias. Bata bertanda juga ditemukan dengan berbagai jenis goresan seperti hiasan, huruf, garis dan tanda lainnya serta terdapat 18 jenis huruf aksara Jawa kuno. Arca-arca dari batu tufa atau limestone juga ditemukan di area candi satu seperti Arca Siwa Mahadewa, arca dewa, arca tokoh, arca Rsi Agastya dan arca Nandi. Sedangkan arca arca singa terbuat dari tanah liat.

Arca Stambha merupakan satu-satunya temuan arca yang terbuat dari granit. Arca arca yang ditemukan di candi 1 bersikap tenang atau sikap santai dengan permukaan arca halus.

Candi 2
Candi dua yang memiliki denah dasar berbentuk bujursangkar terletak 280 m di sebelah barat laut candi satu dan disebelah utara candi 3. Jarak antara candi satu dan dua serta candi dua dan tiga hampir sama bila ditarik garis antara ketiga candi tersebut akan berbentuk segitiga sama kaki. Candi dua terdiri atas candi induk, empat struktur bata (yang tidak ditemukan pada candi lainnya) dan sebuah candi Perwara. Hiasan pelipit pada sisi kanan dan kiri candi berbentuk seperti padma. Pada bagian atas reruntuhan bangunan ditemukan dua arca logam yang terbuat dari Perunggu, yaitu arca Dhyani Buddha berukuran lebar 2,7 cm dan tinggi 5cm dan Arca Awalokiteswara Yang berukuran 3 cm dengan tinggi 10 cm.

Keduanya merupakan arca Buddha yang berupa berasal dari abad 9 sampai 10 Masehi. Candi dua merupakan candi tempat peribadatan Buddha.

Candi 3
Candi tiga merupakan kompleks bangunan yang terdiri atas candi induk dengan tiga bangunan penunjang. Memiliki denah segi empat belas yang terbentuk dari bujursangkar yang sisi-sisinya diberi penampil, struktur kaki bangunan induk memiliki empat struktur dinding bata, dua pertama berbentuk bujursangkar sedangkan dua berikutnya berbentuk segidelapan. Di area candi ini ditemukan Fragmen arca badan Bhairawi, Acha singa, arca pendeta yang berada dalam mulut Makara, kepala arca Siwa Bhairawa, arca makhluk Ghana, topeng topeng tanah liat, arca kepala binatang buaya, anjing dan ular. Arca- arca Candi 3 terbuat dari tanah liat dan umumnya bersikap ugra atau seram. Di candi tiga ditemukan juga dua kepala Acha Dwarapala yang badan dan kakinya hilang, arca singa, arca Kala dan arca makhluk Gana yang merupakan arca -arca penjaga candi. Jejak ajaran Tantrayana terlihat dari candi tiga, aliran Tantrayana kemunculan tercatat pada prasasti Sriwijaya talang tuwo yang bertahun 684 Masehi. Candi 3 diyakini dibangun pada periode yang berbeda dengan jadi satu yaitu pada abad 13 – 14 Masehi.

Candi 4
Pada ekskavasi candi empat pada tahun 1992 tidak didapatkan struktur bangunan masif. Struktur candi merupakan struktur semi permanen seperti bangunan rumah tinggal atau bangunan profan.

Candi 5
Reruntuhan bangunan candi lima berjarak 60 m arah barat laut candi satu dan berupa gundukan tanah seluas 100 m² membandingkan candi lima dengan candi satu dan candi tiga struktur bangunan candi lima terkesan dibuat asal jadi.

Candi 6
Runtuhan candi enam merupakan gundukan tanah setinggi 50 cm dengan luas 90 m². Letaknya sekitar 20 m di sebelah utara candi satu dan diyakini sebagai bagian dari kompleks percandian bumi Ayu.

 

Candi 7
Runtuhan candi tujuh berada di sebelah timur candi satu dan tak bapaknya berbentuk empat persegi panjang di tengah runtuhan terdapat lubang berdiameter 1 m dan di dalamnya terdapat arang dan tulang belulang. Pada tahun 2004 dilakukan tes spit di sebelah Tenggara candi satu namun tidak ditemukan adanya struktur bata.

Candi 8
Candi 8 terletak dekat danau yang dahulunya mempunyai luas 2 ha dan saat ini selalu kering pada musim kemarau. Berjarak sekitar 40 m di sebelah timur candi 3, candi ini memiliki denah yang sangat berbeda dengan bangunan candi lainnya di kompleks percandian bumi ayu.

Pada candi-candi lainnya ditemukan tangga naik di sisi timur, tetapi tidak ditemukan pada candi 8. Dilihat dari bentuknya yang sederhana, terkesan candi 8 merupakan bangunan Mandapa atau bangunan profan. Sebagian besar hiasan bangunan candi terdiri dari relief bunga berbentuk ceplok dan Sulur -suluran.

Pada saat pengupasan menampakan struktur bata berukuran 5 × 12 m dan ditemukan 4 buah arca Makara yang relatif utuh.

Candi 9
Candi 9 berjarak 90 m di sebelah timur laut candi 2. Pada penggalian yang dilakukan Puslitarkenas ditemukan pondasi berukuran 158 × 158 cm. Bagian timur dari struktur tersebut di atas permukaannya terlihat runtuhan bata sementara di bagian barat sangat sedikit ditemukan pecahan bata.

 

Candi 10
Berlokasi di sebelah timur sungai Tebet jambu yang merupakan anak sungai lematang. Dari penggalian sejumlah 14 kotak ditemukan gundukan tanah berisi runtuhan bata dari arah timur ke barat. Di sisi Tenggara candi 10 diindikasikan ada runtuhan bangunan bata. Bangunan candi 10 diduga adalah bangunan pendukung kompleks percandian bumi Ayu, dan merupakan bangunan profan.

Candi 11
Patok penanda Candi 11 terletak di depan Galeri Koleksi Lama percandian Bumi Ayu dan tidak jauh dari Candi 8.